Mbah Munahar, 'Master' Nasi Goreng dari ‘Kota Santri’
Aroma harum nasi goreng menguar dari wajan besi berdiameter sekira 50 sentimeter, di gerobak nasi goreng milik Munahar. Api dari bawah wajan menjilat bagian bawah wajan dengan lidahnya yang berwarna: merah, biru dan orange. Lelaki berperawakan tinggi besar dengan mengenakan peci hitam itu sibuk meracik pesanan pelanggannya, malam itu. Mbah Munahar tengah beraksi Mbah Munahar, begitu para pelanggannya biasa memanggil, begitu lihai memainkan sutil atau spatula yang ia pegang di tangan kanannya, yang telah keriput. Membolak balik nasi goreng, atau mie pesanan pelanggannya, dan memastikan semua bumbu yang telah dimasukkan tercampur sempurna, dan merata, demi menghasilkan komposisi rasa yang pas. Semua ia lakukan sendiri. Istrinya yang juga tak lagi muda, duduk di sebuah kursi plastik tak jauh dari gerobak itu berada. Tua memang, namun semangatnya bekerja mencari nafkah tak lekang oleh zaman. Dalam dunia per-nasi goreng-an, Mbah Munahar boleh dibilang ‘master’. Meng...